Jakarta, 26 April 2018 – Indonesia merupakan salah satu bangsa yang memiliki keanekaragaman flora. Terdapat lebih dari 50.000 spesies tanaman, 30.000 spesies tanaman endemic, dan sekitar 6.000 spesies di antaranya dapat digunakan untuk pengembangan obat-obatan, kosmetika, maupun makanan fungsional. Tersedianya potensi obat-obatan dari bahan alami ini perlu dikembangkan jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang unggul dalam bidang obat-obatan. Jika kita mengacu pada data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2012 yang menyebutkan bahwa 95% bahan obat-obatan yang beredar di Indonesia adalah produk luar negeri, maka hal ini seharusnya sudah menjadi peringatan keras bagi bangsa ini untuk memperhatikan sektor farmasi. Pemerintah dan sektor swasta, termasuk institusi pendidikan tinggi, perlu bersinergi untuk memajukan sektor farmasi di Indonesia.

Sebagai institusi pendidikan tinggi yang mengedepankan riset dan pengabdian masyarakat, Swiss German University (SGU) mengadakan acara Seminar Pengembangan dan Aplikasi Produk Herbal Indonesia yang bertujuan untuk mendukung program pemerintah khususnya sektor farmasi dalam modernisasi produk herbal dan mendorong sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) produk herbal Indonesia. Pada acara seminar ini juga dilakukan acara penandatanganan nota kesepahaman antara SGU dan Tropical Biopharmaca Research Center IPB, Pusat Penelitian Kimia LIPI, Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, dan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul untuk pembentukan Konsorsium Indonesia Untuk Extract Library Bahan Alam yang merupakan upaya pertama yang dilakukan di Indonesia.

Seminar pengembangan dan aplikasi produk herbal Indonesia dan penandatanganan nota kesepahaman pembentukan perpustakaan ekstrak ini merupakan inisiatif salah satu dosen SGU, Kholis Abdurachim Audah, M.Sc, Ph.D, yang juga merupakan Wakil Direktur Bidang Penelitian, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) SGU. “Obat-obatan modern memiliki penanganan yang profesional seperti standardisasi, good manufacturing practice, sistem dan sebagainya sedangkan pada obat-obatan tradisional belum maksimal bahkan belum dibuat secara khusus, sehingga perlu ditangani dan dikembangkan dengan profesional, termasuk dalam segi pengujiannya harus mendapat pengujian secara ilmiah dan klinis seperti obat-obatan modern. Sehingga obat-obatan tradisional tidak dipandang sebelah mata dan dapat disetarakan dengan obat-obatan modern. Jika sudah disetarakan, maka produk herbal yang dihasilkan oleh sektor UMKM Indonesia akan meningkat secara kualitas dan dapat bersaing dengan produk luar negeri,” kata Kholis.

Penggunaan bahan alam untuk keperluan obat-obatan sudah dipraktikkan oleh bangsa-bangsa di dunia seperti Cina, India, Indonesia dan negara-negara lain di dunia. Bahkan di Amerika Serikat, sekitar 50% obat yang sudah disahkan berasal dari bahan alam atau turunannya. Oleh karena itu, menjadi sebuah ironi jika kita sebagai salah satu negara terkaya dalam biodiversitas (biodiversity) tetapi tidak mampu untuk memanfaatkan potensi ini dengan maksimal. “Inisiatif SGU dalam membentuk perpustakaan ekstrak ini juga didasari oleh tidak adanya sinergi antara pemerintah dan sektor swasta dalam memaksimalkan basis data yang sudah ada, namun tidak terintegrasi antara basis data yang dimiliki oleh sebuah institusi/perusahaan dengan yang lainnya. Tujuan akhir pembentukan perpustakaan ekstrak ini yaitu menyediakan repositori dan bahan obat dalam jumlah besar untuk mempercepat proses penemuan obat baru,” kata Rektor SGU, Dr. rer. nat. Filiana Santoso.

Acara seminar herbal yang diadakan di kampus SGU di The Prominence Tower Alam Sutera ini dibuka oleh Rektor SGU, Dr. rer. nat. Filiana Santoso dan dihadiri oleh Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof. Dr.  Enny Sudarmonowati, dan Direktur Standardisasi Produk Pangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Drs. Tepy Usia, M.Phill., Ph.D.. Pada sesi keynote speech, Prof. Enny dan Drs. Tepy menyampaikan apresiasinya  terhadap inisiatif dan kepedulian SGU dalam melaksanakan seminar pengembangan dan aplikasi produk herbal Indonesia dan konsorsium pengumpulan data tanaman herbal yang ada di Indonesia.

Swiss German University (SGU) memiliki komitmen tinggi untuk memajukan pendidikan tinggi Indonesia serta kualitas sumber daya manusia Indonesia dengan penyediaan program pendidikan yang inovatif melalui 11 studi program sarjana dan 3 program pascasarjana yang mendapat pengakuan internasional dan kerja sama industri dengan lebih dari 250 perusahaan yang tersebar di Indonesia dan Eropa.

DOWNLOAD PRESS RELEASE : Dukung Program Pemerintah dalam Modernisasi Produk Herbal, SGU Inisiasi Pembangunan Extract Library Pertama di Indonesia